Bandung [SuaraJabar.Com] - Irjen Pol Djoko Susilo adalah lulusan Akmil 84 yang pertama mendapatkan pangkat Brigjen dan Irjen dibandingkan teman seangkatannya. Usianya belum 50 tahun dan karirnya terus melesat memegang posisi elit sebagai Gubernur Akpol. Djoko Susilo adalah mantan Kapolres Jakarta Utara. Pernah heboh sesaat ketika dia bangun kantor Polres tanpa memakai uang APBN. Djoko juga mantan Dirlantas Polda Metro Jaya.
Djoko Susilo sebelumnya dikenal sebagai anak emas Kapolri yang terdahulu, Bambang H. Danuri (BHD). Selain anak emas mantan Kapolri BHD, Djoko juga sangat dekat dengan Wakapolri Nanan Sukarna. Saat di bulan-bulan terakhir BHD menjabat Kapolri, Ditlantas Mabes Polri dinaikkan levelnya menjadi Korp Lantas Polri. Saat itu posisi Direktur Lantas Mabes Polri dijabat Djoko Susilo dengan pangkat Brigjen setelah sebelumnya Djoko menjabat sebagai Wakil Direktur Lantas Mabes Polri dengan pangkat Kombes.
Sebelumnya, Djoko menjabat Direktur Lantas Polda Metro mengikuti Sespati bersama I Ketut Untung Yoga Ana dan Edward Aritonang. Usai menjalani Sespati dimana Djoko Susilo terpilih sebagai siswa terbaik, ia dipromosikan sebagai Wadirlantas Mabes Polri. Beberapa bulan menjabat, Djoko Susilo langsung naik jabatan sebagai Dirlantas Polri dengan pangkat Bintang 1. Djoko yang pertama kali menggagas Polisi Masyarakat (Polmas). Kapolri BHD menaikkan pangkatnya menjadi Bintang 2 (Irjen) seiring dengan naiknya level Ditlantas Polri itu menjadi Korlantas Polri.
Dengan posisi terakhir sebagai Gubernur Akpol, usia pensiun Djoko masih 8 tahun lagi, artinya posisi Wakapolri atau minimal Bintang 3 sudah pasti mudah diraih. Meskipun mustahil bisa mendapatkan posisi puncak sebagai Kapolri, Irjen Pol Djoko Susilo pasti bisa menjadi salah satu jajaran pimpinan di Mabes Polri. Irjen Pol Djoko Susilo sulit jadi Kapolri karena dia belum pernah menduduki posisi Kapolda type A. Hal ini juga pernah dialami Komjen Imam Sujarwo yang dulu gagal jadi Kapolri karena sebab yang sama.
Sejak awal Kapolri Timur Pradopo tidak suka dengan Djoko Susilo yang dinilainya sangat mengakar kuat di kalangan jajaran Lalulintas Polri. Djoko Susilo juga dikenal sebagai orangnya Wakapolri, Nanan Sukarna, karena Djoko Susilo merupakan motor utama dalam tim sukses Nanan Sukarna. Djoko Susilo menggalang dukungan khususnya di Korps Lalulintas (Korlantas) dan elemen lainnya di kepolisian, DPR, Pers, dan LSM.
Djoko Susilo bersama Wakapolda Bali, I Ketut Untung Yoga Ana, dan Kapolda Jateng Edward Aritonang dikenal sebagai tiga Serangkainya Nanan Sukarna. Solidaritas mereka bertambah erat saat ketiganya menjalani pendidikan Sespati (Sekolah Staf Perwira Tinggi) 4 tahun lalu.
Djoko Susilo juga dikenal dekat di kalangan wartawan, khususnya di kalangan Pers yang biasa meliput bidang Hukum dan Kriminal. Karena selain Djoko murah hati, juga bersahabat dengan kalangan pekerja Pers. Kedekatan Djoko dengan Wartawan sudah dilakukan sejak dirinya menjabat sebagai Kabag Regident Ditlantas Polda Metro dengan pangkat AKBP, kemudian menjadi Kapolrestro Bekasi, Kapolres Jakarta Utara, Dirlantas Polda Metro, Wadirlantas Mabes Polri, Dirlantas Mabes Polri hingga Kakorlantas Polri dengan pangkat Bintang 2.
Djoko juga dikenal sebagai Perwira Polisi yang suka membangun. Sejak menjabat Kapolres Kota Bekasi dan Kapolres Jakarta Utara, Djoko Susilo yang membangun gedung Polres sehingga terlihat megah. Begitu pula ketika Djoko menjabat Direktur Lalulintas Polda Metro selama 4 tahun, Djoko membangun gedung Direktorat Lalulintas sehingga terlihat begitu megah, kemudian disebut sebagai Gedung Biru.
Salah satu kesuksesan Djoko saat menjabat Wadirlantas dan Dirlantas Mabes Polri adalah saat Djoko mengamankan kepentingan tugas dan wewenang Polri ketika RUU Lalulintas dan Angkutan Jalan (RUU LLAJ) yang digodok di DPR pada Januari hingga Mei 2009 silam. Saat itu dalam Draft RUU LLAJ yang diajukan Kementerian Perhubungan, disebutkan dalam salah satu pasalnya akan mengambil alih proses penerbitan SIM, STNK, dan BPKB menjadi salah satu tugas dan wewenang Kementerian Perhubungan. Tentu saja Polri tidak terima dengan pasal dalam draft RUU itu. Sebab dalam hal SIM, STNK, dan BPKB, Polri mendapat pasokan “darah segar” dalam operasionalnya termasuk menggemukkan pundi-pundi kekayaan para petinggi Polri.
Sebagai informasi, uang suap dan pungli yang diperoleh dari SIM, STNK, BPKB, Mutasi, Balik Nama, pesanan nopol cantik, nopol khusus dan nopol blank (bebas pajak) dan cek fisik, khusus di Polda Metro saja menerima sekitar Rp 2 milyar setiap harinya. Coba Anda hitung di 33 Direktorat Lalulintas Polda di seluruh Indonesia.
Menyikapi wacana ini, Tim khusus pun dibentuk Polri, yang dipimpin oleh Djoko Susilo sebagai Direktur Lalulintas Mabes Polri untuk menggagalkan rencana Kementerian Perhubungan pada saat itu. Djoko Susilo saat itu dibantu Edward Aritonang yang. menjabat Kepala Divisi Humas Mabes Polri, dan I Ketut Untung Yoga Ana sebagai Kabag Penerangan Umum Mabes Polri. Berbagai upaya pun dilakukan termasuk melobby anggota DPR khususnya jajaran Komisi III yang membawahi kepolisian dan jajaran Komisi V yang membawahi perhubungan.
Djoko berhasil menggagalkan keinginan Kemenhub pada saat itu. RUU LLAJ disahkan pada minggu keempat bulan Mei 2009 dimana Polri tetap memegang wewenang tanpa perubahan sedikitpun. Polri tetap memiliki wewenang menerbitkan SIM, STNK dan BPKB maupun wewenang lain terkait lalulintas.
Saat sedang ramai-ramainya RUU LLAJ pada saat itu, di saat yang bersamaan, mencuat kasus pembunuhan Direktur PT. RNI, Nazrudin Zulkarnaen, yang tewas ditembak di Tanggerang. Ketua KPK, Antasari Azhar, yang saat itu sedang gencar-gencarnya menyadap hubungan HP para petinggi Polri akhirnya diseret ke penjara karena menjadi tersangka utama pembunuhan. Mungkin saja kalau pada saat itu Antasari Azhar tidak terlibat masalah dan tetap sebagai Ketua KPK, sudah pasti akan banyak para petinggi Polri dan anggota DPR yang ditangkapinya karena terlibat transaksi jor-joran dalam proses tarik ulur RUU LLAJ itu.
Selanjutnya, ketika Djoko menjadi Korlantas dan Timur Pradopo menjabat Kapolda Metro Jaya, benih-benih ketidak sukaan Timur kepada petinggi- petinggi jajaran Lalulintas Polri terlihat ketika pengganti Djoko sebagai Direktur Lalulintas Polda Metro Jaya. Kombes Condro Kirono digantikan Kombes Royke Lumowa.
Nanan, Djoko, dan Condro sebenarnya sudah punya calon sendiri sebagai penggantinya Condro sebagai Dirlantas Polda Metro Jaya, akan tetapi yang muncul justru Royke Lumowa yang diduga kuat sebagai orang titipan Cikeas, karena isterinya Royke adalah Dokter tentara dari Kowad yang merupakan salah satu anggota tim kedokterannya Ibu Ani Yudhoyono.
Selain itu, Timur Pradopo juga semakin menjadi tidak suka kepada Djoko Susilo, karena mau menerima kenaikan pangkat Bintang Dua dari Kapolri BHD. Sebelumnya Timur sudah meminta Djoko agar mau menjadi Staf Ahlinya (Sahli) kalau dirinya menjabat Kapolri nantinya. Tapi Djoko berpikir lain, kesempatan harus diambil, dan Djoko tahu yang paling bagus potensinya menjadi Kapolri nantinya adalah Nanan Sukarna. Namun nasib berkata lain dan dugaan Djoko meleset, justru Timur Pradopo yang menjadi Kapolri.
Demi menjaga citranya di mata Cikeas, dan juga karena adanya benih ketidaksukaannya kepada Djoko Susilo, makanya Timur diketahui paling pantang menerima upeti dari jajaran Lalulintas yang dipimpin Djoko. Persoalan lain juga muncul saat Djoko menolak sistem Inafis dimasukkan sebagai program terpadu dalam proses pengambilan identitas bagi peserta SIM. “Program alat simulator pada proses pengambilan SIM harus jalan terus. Program Inafis silakan dilakukan sendiri oleh reserse (Bareskrim). Jangan dicampur baurkan program identitifikasi pada Inafis dengan SIM,” begitu kira-kira argumen Djoko saat menolak dipadukannya program Inafis ke SIM.
Kala itu Djoko sedang perlu dana untuk membangun Nasional TMC (NTMC) Korlantas Polri di samping TMC Polda Metro Jaya yang juga dibangun oleh Djoko Susilo. Saat itulah kekesalan Timur Pradopo terhadap Djoko Susilo semakin menjadi-jadi. Tetapi taktik “Majapahit” tetap dijalankan. Walaupun tidak afdol kepada Djoko tapi Timur Pradopo tetap merestui Djoko menduduki jabatan Gubernur Akpol yang dilantiknya pada 2 Maret 2012 lalu. Apakah ini jebakan?
Perseteruan kembali menghangat karena Kapolri Timur Pradopo sudah harus pensiun pada 10 Januari 2013 disaat umurnya 57 tahun. Siapakah penggantinya? SBY berharap penggantinya Timur adalah orang muda yang berprestasi gemilang, cerdas, santun, rendah hati, dan yang utama adalah selain dapat mengamankan Pemilu 2014 juga dapat mengendalikan Polri setelah SBY lengser.
Siapakah mereka? Pilihan hanya ada pada dua orang, Kapolda Jawa Barat Irjen Putut Bayu Eko Seno yang disukai Timur Pradopo, dan Djoko Susilo, perwira andalannya Nanan Sukarna. Sama-sama Akpol angkatan 1984 dan sama-sama lahir 1961. Keduanya baru pensiun dari Polri pada 2018, yaitu 4 tahun setelah Pemilu 2014 atau setahun jelang Pemilu 2019.
Djoko memenuhi kriteria tapi Djoko belum pernah memegang komando wilayah setingkat Polda Tipe A. Djoko Susilo harus menjadi Kapolda dulu baru selanjutnya layak mendapat Bintang Tiga sehingga tinggal selangkah lagi menjadi Kapolri.
Timur Pradopo yang hanya dalam hitungan 5 bulan ke depan sudah masuk Masa Persiapan Pensiun (MPP) “tidak terima” kalau pengganti sementaranya adalah Nanan Sukarna. Sebab kedepannya Nanan Sukarna pasti akan memuluskan Djoko menjadi Kapolri. Timur Pradopo tahu tentang kasus Simulator SIM, dan menolak mentah-mentah upeti yang disodorkan Djoko. Timur tahu soal pemukulan terhadap Bambang Sukotjo. Timur tahu Suntukojo dijebloskan ke penjara lewat pengadilan Bandung Jawa Barat. Timur juga tahu upaya naik banding Suntukojo berbuah kenaikan jumlah hukuman yang diterima Suntukojo.
Di situlah Djoko Susilo terjebak masuk kedalam labirin politik dan sekarang ia mau tak mau harus menerima getahnya. Yang jadi pertanyaan adalah: Apakah benar ada konspirasi yang memang sudah dipersiapkan untuk menjatuhkan Djoko Susilo ? Apakah Djoko Susilo akan meneriman begitu saja dirinya dipermainkan dan dipermalukan ? Sepertinya episode ‘sinetron politik’ ini akan berjalan panjang dan berliku karena sudah menjurus ke high politics dan perang bintang pun pasti tak terhindarkan lagi. Dan sekarang silahkan anda Renungkan sendiri – Nanti pasti juga akan anda temukan sendiri jawabannya.(rn/sj)


